Aku Tak Seperti Mereka (Puisi)

Senin, 08 Juni 2015

Aku Tak Seperti Mereka

Aku tak seindah pelangi
Yang membuatmu jatuh cinta akan warninya
Aku tak secantik bunga mawar
Yang membuatmu rindu akan wanginya

Namun aku ingin kau tetap mencintai dan merindukanku
Seperti pertama kali kau jatuh cinta denganku
Seperti pertama kali kau merindukanku

Meski kau tahu
Aku tak seindah pelangi dan tak secantik mawar
Meski kau tahu
Aku tak seperti mereka

Aku tak seelok fajar dengan sinarnya
Tak sesejuk embun pagi dengan butir airnya
Tak sehangat mentari dengan cahayanya
Tak selembut angin dengan hembusannya

Aku tak seperti mereka
Seperti embun pagi yang sejuk dan fajar yang elok
Tak pula seperti mentari dan angin yang hangat dan lembut

Aku tak seterang rembulan
Yang membuat matamu berpaling pada cahayanya
Aku tak seelok kerlip bintang
Yang membuat hatimu berpaling pada sinarnya

Namun aku ingin kau tetap berpaling padaku
Seperti pertama kali matamu berpaling padaku
Seperti pertama kali hatimu berpaling padaku

Meski kau tahu
Aku tak seterang rembulan dan tak seelok bintang
Meski kau tahu
Aku tak seperti mereka

By : Putri Dwi

Untuk Awan

Sabtu, 16 Mei 2015


Awan,
Apa kabarmu di sana? Di tempatmu berdiri merajut masa depan, tempat yang jauh dari tempatku berdiri kali ini. Tempat yang sudah tidak lama lagi akan kamu tinggalkan dan bersiap memulai pada kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang jauh lebih kejam, keji dan jahat. Jauh lebih jahat dari lingkungan design grafis yang katamu di situ lingkungannya jahat itu.  Bagaimana dengan kabar teman-temanmu? Apa mereka baik-baik saja? Tidak merayu dan mengajakmu nakal? Walau hanya sekedar minum-minum?! Apa kabarmu saat di rumah? Rumahmu yang jelas tidak jauh dari rumahku, hanya berjarak sekitar 1,5 kilometer atau 1500 meter. Namun kita jarang bertemu, hanya untuk berpapasan secara kebetulan di jalan saja jarang, bahkan mungkin terkadang hanya aku yang tahu.

Tetapi aku masih ingat kapan terakhir kita bertemu, kapan terakhir kita ngedate (sok gaul yaa. Hehe). Sabtu malam, 14 Februari 2015.  Tetapi baru beberapa kilometer dari rumahku kita sudah terguyur hujan. Lalu kita berteduh di depan toko dan kamu memutuskan untuk mengajakku makan di sekitar situ setelah lebih dari setengah jam kita berdiri (berteduh). Bukan kah seperti itu? Kita terakhir bertemu dan mengobrol di hari sabtu malam. Dan kita belum bertemu kembali di malam lainnya, sore, siang, pagi atau hari lainnya. Kita belum bertemu dan aku selalu merindukanmu. Tetap selalu merindukanmu meski setelah kita bertemu.

Aku turut bahagia ketika kamu bilang bahwa kuliahmu kurang satu bulan lagi, aku turut bahagia ketika kamu bilang bulan depan sudah magang kerja, aku turut bahagia denganmu yang sebentar lagi akan bekerja, memiliki pendapatan sendiri, bisa membeli dan memiliki apapun yang kamu mau dan membahagiakan kedua orang tuamu. Ya, meskipun semuanya tidak secepat itu, butuh proses panjang. Namun akhirnya kamu pasti akan seperti itu. Kamu akan bekerja bukan magang lagi, memiliki pendapatan sendiri, bisa membeli dan memiliki apapun yang kamu mau dan membahagiakan kedua orang tuamu.

Kamu akan memiliki dunia baru, kehidupan yang baru, di Surabaya. Lalu bagaimana denganku? Hahaha.. kali ini, kita akan semakin jauh. Kali ini, aku akan melanjutkan pendidikanku selanjutnya, berdiri ditempat yang semakin jauh darimu, di Malang. Yaa, Malang! Tanah yang akan menjadi tumpuanku berdiri kali ini adalah tanah yang juga pernah menjadi tumpuan bagimu.

Oh iya, aku ingin bercerita sedikit kepadamu. Tetapi aku tidak akan menjelaskan secara jelas permasalahannya, di sini. Aku akan mau menceritakan semuanya secara jelas kepadamu, secara live saja hahaa.

Awan, aku bercerita kepada tiga temanku tentangmu. Aku menceritakan semua kepada mereka tentangmu, tentang permasalahan yang terjadi di antara kita akhir-akhir ini mengenai masa depanmu itu. Yaa, tanpa aku jelaskan pasti kamu sudah mengerti apa yang terjadi. Simpan yang kamu tahu itu. Dan di sini aku hanya ingin memberitahumu sedikit. Kau tahu Awan? Ketiga temanku mempunyai pendapat atau jawaban yang berbeda. Ada yang menasehatiku dan menyemangatiku, ada yang mendukung keputusanku dan ada yang membuatku berfikir dan bertanya-tanya sendiri. “iya ya?”, “masa iya?”, “masa Awan seperti itu?”. Yaa, aku bingung dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang nggelibet di otakku dan  aku pun belum menemukan jawabannya. Tetapi, aku tetap ingin berprasangka baik saja kepadamu, aku tetap meyakinkan diriku bahwa apa yang kamu katakan itu benar adanya. Tidak ada maksud lain, tidak ada hal lain, tidak ada tujuan lain, tidak ada alasan yang lain dan lainnya yang lain. Hehe..

Sudah ya Awan, aku mulai mengantuk. Sebelumnya, terima kasih kamu selalu mengakhiri hariku dengan ucapan selamat malam yang indah dan mengawali hariku dengan ucapan selamat pagi yang istimewa. Yang tentunya menghadirkan warna baru ketika aku membuka mata. Hanya karena ucapan selamat malam dan pagimu saja aku sudah merasa hariku berwarna, karena memang yang perlu kamu tahu! Hal indah dan istimewa yang membuat hari-hari sesorang menjadi lebih berwarna, tidak selalu berawal dari hal besar. Jadi, tetaplah menjadi Awan yang seperti itu. Selamat malam.

By : Putri Dwi